Majalah

Untuk pembelian Majalah MASKA dapat menghubungi: redaksi@maska.or.id (fast response)

Majalah

Majalah MASKA Edisi 3 - 2017

01 Agustus 2017

Artikel ini merupakan salah satu judul rubrik dalam Majalah MASKA Edisi 3. Apabila Anda ingin membaca lengkap silakan membeli Majalah MASKA dengan klik DI SINI

 
Menagih Komitmen Reaktivasi Jalur Kereta Api Kedungjati-Tuntang

 

AKTIVITAS proyek pembangunan tol di Km 37.600 pada Sabtu siang (8/4/2017) terasa lebih istimewa. Rupanya Presiden Joko Widodo tengah meninjau pembangunan fisik ruas tol Bawen-Salatiga. Rombongan berhenti di atas jembatan Tuntang yang memiliki panjang 330 meter itu. Hamparan Danau Rawapening yang indah di kejauhan tampaknya tidak terlalu menjadi perhatian Presiden. Ia fokus pada kendala yang dilaporkan Menteri PUPR Basuki Hadimuljono bahwa masih ada masalah di Bukit Polosiri. “Problem yang berat adalah di ruas jalan Bawen-Salatiga. Di daerah Tuntang paling berat karena menghadapi bukit-bukit yang memerlukan pemotongan dan membawa tanah keprasan bukit dipindahkan ke tempat yang lain,” ucap Presiden seperti yang dimuat dalam situs berita www.krjogja.com (Jokowi Tinjau Proyek Jalan Tol Bawen-Salatiga).

 

                  Kurang lebih dua bulan kemudian masalah membabat bukit sudah terselesaikan. Dikutip dari www.kumparan.com (Pemerintah Gratiskan Tol Bawen-Salatiga Selama Mudik Lebaran), pada Minggu siang (11/6/2017) Menteri PUPR kembali menginspeksi ruas tol Bawen-Salatiga untuk memastikan persiapan operasional sementara tol menghadapi arus mudik Lebaran 2017.

 

Cerita sukses pembangunan jalan tol Seksi 3 Bawen-Salatiga itu rupanya tidak dialami pada proyek reaktivasi jalur kereta api Kedungjati-Tuntang yang melintas di bawahnya. Padahal jalur KA yang diresmikan sejak 1873 itu sama pentingnya dengan jalur tol Bawen-Salatiga. Dalam rencana Kementerian Perhubungan yang dibuat pada 2012, selain digunakan untuk kereta api reguler, jalur kereta api ini akan menjadi akses ke lokasi-lokasi pariwisata seperti kawasan wisata Ambarawa (Museum KA, Bandungan, Rawapening) dan kawasan wisata Borobudur. Selain itu jalur kereta api Semarang-Kedungjati-Ambarawa-Magelang diharapkan bisa mengurangi beban jalan raya Semarang-Magelang-Yogyakarta.

 

Pada 14 Januari 2013 MoU pengaktifan kembali jalur ditandatangani oleh Dirjen Perkeretaapian, PT KAI (Persero), dan Gubernur Jawa Tengah. Setelah melalui tahap Feasibility Study (FS) dan Detail Engineering Design (DED), proyek segera dikebut. Sebagai tahap awal jalur yang akan diaktifkan kembali hanya meliputi Kedungjati-Tuntang. Sampai Desember 2014, areal jalur sepanjang 36 kilometer itu sudah dibersihkan dari bangunan-bangunan warga. Bahkan situs berita www.kompas.com (Jalur-Kedungjati-Ambarawa Akan Dilengkapi Rel Ganda) ketika itu mengungkap rencana PT. KAI yang akan mempersiapkan pembangunan kembali jalan kereta api menjadi dua jalur. "Hanya saja sebagai awalan, hanya difungsikan satu jalur dahulu. Artinya jika nantinya rel ganda jadi dikembangkan kami tidak perlu lagi melakukan pembebasan lahan," kata Manajer Humas PT KAI Daop 4 Semarang, Suprapto, Kamis (12/11/2014).

 

Melihat progres pembangunan yang begitu cepat, KAI optimis reaktivasi akan selesai tepat waktu. "Pada tahun 2015 ini, PT KAI akan merampungkan reaktivasi jalur antara Stasiun Tuntang sampai Kedungjati,” tutur Ella Ubaidi, Executive Vice President (EVP) Conservation and Architecture Design PT KAI (Persero) seperti dimuat dalam berita online Pikiran Rakyat 27 April 2015 (PT KAI Pastikan Reaktivasi Rel KA Potensial Dikembangkan). Ia menambahkan kendati permukiman di sepanjang bantaran rel KA tersebut dibebaskan, PT KAI berupaya memberdayakan warga yang semula menghuni lahan PT KAI agar mereka dapat mengambil manfaat dari reaktivasi rel. PT KAI mendorong masyarakat di sepanjang rel agar membuka rumah penginapan, menjual kuliner khas daerah, membuat kerajinan cinderamata dan lain-lain untuk kepentingan pariwisata.

 

Proses reaktivasi jalur ini bukannya tidak menemui masalah. Selama Mei-Oktober 2015 pembangunan sempat tertunda karena protes warga sekitar akibat dampak pembangunan menyebabkan saluran air yang terganggu atau irigasi ke sawah warga tidak maksimal. Proyek yang sudah setengah jalan itu kembali dilanjutkan pada akhir Oktober 2015. Hanya saja untuk pembangunan selama tahun 2015 cuma fokus pada pengerasan tanah dan pembuatan drainase. Seperti yang dikatakan Jimy Gultom dari Balai Teknik Perkeretaapian Wilayah Jawa Bagian Tengah (www.berita.suaramerdeka.com, 29 Oktober 2015: Reaktivasi Rel Kedungjati-Tuntang Dilanjutkan) bahwa pengerjaan drainase dari rencana pembangunan rel tersebut untuk menampung aspirasi dari warga sekitar yang terkena proyek.

 

Memasuki 2016, PT. KAI Daop 4 Semarang mengumumkan batas waktu yang baru untuk penyelesaian reaktivasi jalur Kedungjati-Tuntang. Jalur yang akan dipakai untuk kereta api reguler pun diperpanjang sampai Bedono yang akan tuntas seluruhnya pada 2018. "Saat ini tengah dilakukan perbaikan normalisasi rel gigi menuju Bedono supaya bisa sampai Bedono, targetnya empat bulan selesai. Kalau Kedungjati-Bedono dua tahun lagi selesai atau 2018, karena itu reaktivasi jalur mati," kata Ella dalam wawancara dengan media online www.kompas.com (Target Reaktivasi Kedungjati-Bedono Selesai Pada 2018) pada 25 April 2016 di Stasiun Ambarawa.

 

Perkembangan proyek pengaktifan kembali jalur kereta api Kedungjati-Tuntang-Bedono selama paruh kedua 2016 sampai saat ini tidak seheboh seperti yang diberitakan media massa beberapa tahun sebelumnya. Tidak terlihat kegiatan pembangunan apapun terkait reaktivasi jalur mati Tuntang-Kedungjati.

 

Rel aktif untuk jalur wisata kereta api ala heritage masih ada di sepanjang Bedono-Ambarawa-Tuntang yang kemudian berakhir di sekitar 500 meter dari Stasiun Tuntang ke arah Kedungjati. Selepas itu tetap masih berupa tanah yang sudah dipadatkan sejak 2014-2015. Bedanya, kondisi saat ini sudah dipenuhi semak belukar, Bantalan-bantalan beton untuk rel dibiarkan begitu saja di bantaran Sungai Tuntang. Sementara itu salah satu aset heritage PT KAI pada bangunan cagar budaya Stasiun Bringin yang usianya sama dengan Stasiun Ambarawa masih tetap dibiarkan dalam kondisi semakin rusak. Dua stasiun bersejarah lain di jalur yang sama yaitu Gogodalem dan Tempuran sudah lama lenyap tak berbekas.

 

Dikutip dari laman berita Tribun Jateng (Alasan Proyek Reaktivasi Rel Tuntang Mangkrak, Ini Penjelasan Dirjen Perkeretaapian Kemenhub) pada 6 Juni 2017, Kepala Balai Perkeretaapian Kelas 1 Jawa Tengah, Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Rudy Damanik mengatakan bahwa mandeknya proyek reaktivasi jalur Kedungjati-Tuntang karena saat ini anggaran Dirjen Perkeretaapian Kementerian Perhubungan sedang difokuskan untuk proyek di jalur selatan Jawa. "Itu memang pekerjaan rumah kami, yang pasti tiap tahun pasti anggarannya kami ajukan. Harapan kami, 2018 mulai cair meski bertahap," kata Rudy.

Entah sampai kapan publik harus menunggu terselenggaranya jalur kereta api wisata Kedungjati-Ambarawa. Di bagian lain badan jalur terbengkalai yang menyusuri pinggiran Sungai Tuntang terdapat pemandangan baru jembatan tol Bawen-Salatiga yang penyelesaiannya sudah 99 persen. Pembangunan tol tersebut mulai dikerjakan sejak 2015. Saat ini Kementerian PUPR melalui BPJT tengah melakukan studi kelayakan dan desain tol Bawen-Yogyakarta sepanjang 100 kilometer. Cabang tol ke Yogyakarta ini sudah masuk dalam rencana Kementerian PUPR.

 

IBNU MH

 

Salah satu jalur di Stasiun Tuntang yang belum sempat dipasang batang rel pada akhir Mei 2017 lalu (Foto: Djoko Setijowarno).

 

Batas akhir rel kereta api dari arah Stasiun Tuntang. Arah Kedungjati masih berupa tanah yang dipadatkan. Tampak di kejauhan jembatan tol Bawen-Salatiga sudah selesai dibangun (Foto: Djoko Setijowarno).

 

Deretan bantalan rel kereta api yang belum sempat dipasang teronggok di tepi Sungai Tuntang (Foto: Djoko Setijowarno).

 

Jembatan tol Bawen-Salatiga melintasi Sungai Tuntang dan proyek reaktivasi jalur kereta api Kedungjati-Tuntang yang mangkrak di bawahnya. Gambar diambil dari cuplikan video drone Puslitbang Transportasi Jalan dan Perkeretaapian Balitbang Perhubungan.

 

Selama 2016-2017 tidak ada kegiatan pembangunan apapun dalam proyek reaktivasi jalur kereta api Kedungjati-Tuntang (Foto: Djoko Setijowarno).

 

Pondasi jalur kereta api Kedungjati-Tuntang yang dipenuhi semak belukar (Foto: Djoko Setijowarno).

 

Nasib Stasiun Bringin milik PT KAI dibiarkan semakin rusak karena tidak ada perawatan (Foto: Djoko Setijowarno).



Majalah Lainnya